01/03/2011

Menepikan hati

*Wanita bertudung kabut,
meringkuk disudut,
adakah yang mampu membangunkanmu,
tuk sekedar membuka jendela,
membiarkan cahaya menelusup agar tak redup ruangmu.

**Aku tlah sampai ujungku,
langit tak pernah berkata cukup,
tiba ku pada kesadaran aku kosong,
aku bahkan mulai enggan perduli.
semalam tadi air mataku menderas,
pagi ini,smua menatapku!
tlah kukatupkan bibirku,aku malas mendengar penghiburan.
Usahlah menjadi sok memahami aku,
cukup membiarkanku,meski disebuah sudut aku tampak menyedihkan.
Usah membiarkan dada bidangmu untukku,
sekian waktu aku tak pernah membutuhkan itu.

Tahukah kau,…
aku mulai mengerti,
saat selaput pekat turun,bibir akan bicara kebenaran rasa yang tersimpan.
Alangkah naifnya kau dan aku.
ibaku pada kehebatanmu,
ibaku pada arogansiku katamu.

Kita terikat pada satu episode panjang,
entah kapan jalan bergandengan,
atau akan kian bersebrangan.

Sedari semalam tak sepatah kata terucap dari bibirku,
aku tidak sendiri tapi betapa kesunyian menggigilkan relung dan sendiri-sendiku.
Aku takut, kesenyapan ini mematikan seluruh indera perasaku.

Seperti waktu yang lampau,aku tertatih lalu mencoba berdiri.
Kini aku mulai menyadari,sekedarnya aku bagimu.
Kuputuskan berjalan saja,…lewati saja.
Setidaknya,…aku punya tempat untuk pulang, pulang ke rumahMU.

*Wanita bertudung kabut masih membeku,
apapun yang mencoba membangunkanmu urung lalu pergi tertunduk.



30 comments:

  1. bagussssss banget :)
    anyway...salam kenal yah. baru nii di dunia blog...mohon bantuannya...xixixix ;))
    makasiii

    ReplyDelete
  2. bagus kata2nya!!
    dapat inspirasi dari mann??
    visit my blog

    ReplyDelete
  3. kayaknya bagus...
    hehe maap, paling gaptek kalo disuruh mengapresiasi puisi...

    ReplyDelete
  4. Merinding bacanya :)
    Tampilan baru ni mba, hehe. UDah lama ya gak berkunjung...

    ReplyDelete
  5. dua mu... mu dan Mu ya mbak? eh ya ngga sih

    ReplyDelete
  6. mbak senjaa..
    kl mau koment harus ke bawaaaaaaaaah terus,,
    kykna emang harus ganti template nih :D

    ReplyDelete
  7. Ada apa dgn wanita berkerudung itu..mengapa dia menjadi tidak bersemangat.
    Semoga saja adekku tetap semangat ya...

    ReplyDelete
  8. tetap semangat dan terus berkelana di dunia yang penuh warna ini

    ReplyDelete
  9. menutup diri kadang hanya membuat luka menjadi semakin terasa, ada kalanya semua harus meleleh dengan sebuah cerita ....

    ReplyDelete
  10. pulang kerumahMU
    setiap saat dijemput dalam beku

    ReplyDelete
  11. Serius Mba, puisinya bagus dan dalem banget. Mba emang paling teope begete deh kalo ngerangkai kata2 :-)

    ReplyDelete
  12. suka mb baca puisinya...
    aku follow y blognya, salam kenal.
    :) :)

    ReplyDelete
  13. ini puisi keren nih.,.,.
    mengalir lembut

    ReplyDelete
  14. Mbak... kemanakah semangatnya pergi? Mbak Irma yg kukenal biasanya sangat kuat menghadapi segala masalah. Semangat ya mbak...

    ReplyDelete
  15. Puisinya sangat sedih dan terkesan putus asa... semoga itu tak menggambarkan mbak Irma ya..?
    Jadi sedih nih rasanya.

    ReplyDelete
  16. kesedihan pun mampu melahirkan keindahan .. spt puisi mbak irma

    ReplyDelete
  17. selamat pagi...

    pagi-pagi langsung sarapan dengan seporsi ibu guru ini...hmmmm merinding namun indah...^_^

    ReplyDelete
  18. kunjungan pertama....

    puisinya keren banget.... ^__^
    salam kenal........

    ReplyDelete
  19. Speri biasa, puisinya buat orng merinding, hihihi


    Ap kbar T'Irma, gmn blognya?

    ReplyDelete
  20. Wanita yang bertudung kabut memendam luka sampai batasnya.
    Ahk. . Kamu, cukup sudah kisah ini. Kini saatnya berjalan menuju peraduan Mu.

    salam.. .

    ReplyDelete
  21. Senja, aku bingung sebenarnya ini cerita atau curhat kamu sis...

    ReplyDelete
  22. nice...
    sempatkan mengunjungi website kami http://www.hajarabis.com
    sukses selalu..

    ReplyDelete
  23. Emm keren yah!
    :)
    Judulnya Menepikan Hati,
    keren
    salam kenal mua na yah:)
    jangan lupa singgah tempat Clara yah.
    thanks

    ReplyDelete
  24. duh dadaku gak bidang juga nih... :)

    ReplyDelete
  25. tepikan hati di ujung harapan, disaat semua sandaran tak dapat dituju. hanya Rabb yang mengerti akan isi hati ini.

    ReplyDelete

Terima kasih kunjungan dan komentarnya, salam.... :)