21/11/2012

Hidup begitu indah,...


Mendadak saya ingat satu peristiwa karena celotehan teman saya kemarin lalu, dia bilang gak akan ada yang mengira ada sesuatu yang serius ditubuh saya atau gak akan ada yang menyangka bahwa saya adalah salah satu penyintas. Dan pernah menjalani sekian perjalanan cukup melelahkan terkait dengan kesehatan.

Ya, saya ingat saat itu saya sedang menunggu panggilan untuk proses kolonoskopi yang merupakan pemeriksaan penunjang kondisi saya
Saya sedang menunggu di ruangan khusus pasien endoskopi yang bersamaan dengan ruang hemodialisa atau cuci darah. Saya baru menjalani dua kali operasi saat itu.

Seorang ibu setengah baya tampaknya diam-diam memperhatikan saya lalu dia bertanya,
" mau menjalani pemeriksaan apa dik atau sedang mengantar ya ? "
Saya tersenyum dan menjawab " saya mau kolonoskopi bu,... " sinar matanya tampak heran, " loh, adik sakit apa ? keliatannya sehat bugar " dalam hati aku mengucap alhamdulillah, bahkan setelah menjalani dua kali operasi dan sebelumnya menjalani perawatan di RS begitu panjang dengan diagnosa Cancer saya masih terlihat tampak sehat dan baik-baik saja :)    

Entah kalau ini pembawaan saya, atau saya memang tidak ingin terlihat seperti pasien pada umumnya. Tapi selama saya masih bisa berjalan dan melakukan segalanya sendiri saya ingin terlihat baik-baik saja. Mama saya nyaris menangis karena beberapa saat menjelang operasi pemotongan kanker pada usus besar saya, pagi harinya saya minta mandi besar. 

Dengan kedua tampon infus dikedua tangan dibantu mama, saya mandi.... saat itu saya berfikir bisa saja saya tidak bangun lagi dari meja operasi dan saya ingin dalam keadaan bersih saat menghadap Allah.

Atau saat suatu pagi saya tidak bisa berjalan tegak karena nyeri perut yang hebat, dan kami memutuskan harus ke RS. Saya nyaris membuat suami saya kesal bukan kepalang, karena saya memaksa mandi  dulu dan berganti baju dengan baju yang pantas untuk keluar rumah, padahal wajah saya meringis menahan sakit dan jalan saya bongkok karena nyeri pada abdomen. Heheee,... ini mungkin karena inilah saya, selain karena saya memang tidak ingin terlihat menyedihkan meski dalam kondisi sakit sekalipun.

Menjadi penyintas tidak membuat saya menjadi tidak bahagia, dulu saat berperang saya menjalaninya dengan sepenuh hati...fokus, serius dan memperkecil dunia dikepala saya. Lalu saat sel kanker saya pada tahap remisi, saya bersyukur dan menikmati hidup sebaik mungkin. Dan saat saya menyadari, sekali menjadi penyintas maka seumur hidup saya tetap harus bersiaga penuh dan menyadari ada tali pengikat kanker usus dengan garis keturunan  tidak membuat saya berkecil hati. Hanya mereka yang hatinya luas dan tegar yang Tuhan pilih, sayangnya Tuhan mempercayai saya mampu menanggungnya :)

Anak-anak adalah hadiah dan kekuatan bagi saya, sedari awal saya mengenalkan kanker pada mereka. Membuat mereka mengerti ketika ibunya harus memaksa mereka menyantap apapun  yang mendatangkan kebaikan untuk tubuh dan kesehatannya.

Ada banyak cara Tuhan mengenalkan keajaiban kehidupan, saya selalu percaya tidak pernah ada yang sulit bagiNya. Momok mengerikan penyakit serius hanya ada pada dunia medis, bagiNya sungguh tidak ada yang tidak mungkin. 

Setiap pagi saat saya terbangun,... saya bersyukur dan berbisik di dalam hati.
" Terima kasih ya Allah,...sudah mendekorasi hidupku dengan begitu indah "  

# kamus :
Remisi : Hilangnya secara lengkap atau parsial atau tanda-tanda dan gejala penyakit sebagai respon terhadap pengobatan, masa dimana penyakit berada dibawah kontrol.
Meskipun remisi tidak selalu kesembuhan.
  
 



 
 

4 comments:

  1. hidup memang akan selamanya indah jika kita banyak bersyukur.....

    ReplyDelete
  2. kadang-kadang kita merasa kehidupan berat sebelah, tapi kita tidak tahu menghargai kita adalah yang orang yang paling bertuah kerana diberi nikmat kesihatan, mendpatkan pendidikan, kekeluargaan dan seumpamanya,,, lain dari saudara-saudara kita yang memerlukan,,tersangatlah bersyukurlah kita harusnya...semoga kehidupan kita lebih baik maka berbaiklah sesama kita,,,
    walaupun oyye ada masalah bhsa tapi oyye merasakan karya irma itu menusuk mendalami hati-hati kehidupan kita,,sokong irma jauh dari bumi tanjung malim, perak, malaysia.

    ReplyDelete
  3. yep, dengan bersyukur dan sabar, penyakit apapun tidak akan terasa.. Smoga saja bukan penyakit-hati yang ada di dalam diri kita, karena penyakit tersebut lebih berbahaya dari penyakit apapun..

    ReplyDelete

Terima kasih kunjungan dan komentarnya, salam.... :)