31/12/2012

#Postcardfiction# : Because, I love you



  Warna langit pagi ini berbeda dengan hatiku, biru terang dengan awan tipis yang indah. Aku memandang keluar jendela, berharap  meringankan kegalauan perasaanku. Dan terkejut mendengar suara disamping rumah, apa yang membuat kak Donni dan ayah sepagi ini asyik berbincang di garasi. Aku melangkahkan kaki menuju garasi, mendadak langkahku terhenti mendengar pembicaraan mereka berdua.

 " Untuk apa sih  menyimpan mobil yang sudah tua dan rusak ? ayah bahkan  punya dua mobil , kenapa  mempertahankan barang rongsokan? dijual pun nggak yakin ada yang mau?"

Ayah tersenyum  lalu  berkata  " kamu tahu ? mobil ini mendampingi ayah sejak  muda, yang mengantarkan ibumu ke RS ketika kamu lahir, juga adikmu Zarra. Banyak moment berharga bersama mobil ini.  Meski sudah tidak bisa dipakai atau dijual, tetap ayah simpan.  Dulu saat masih keren mobil ini dibawa kemana pun, giliran sudah tua masa dibuang ? Ayah akan tetap merawatnya.. "

Ucapan ayah membuatku tersentak,  perlahan air mataku mengalir.  Ingatanku tertuju pada Dimas , lelaki rupawan yang hampir 3 tahun menjadi pacarku. Kekasihku yang setia yang tak diragukan ketulusan cintanya . Lelaki  yang mandiri, cerdas dan baik hati yang pernah dengan bangga kupamerkan pada semua.

 6 minggu ini telfon, sms nya kuabaikan, alasan sibuk, lelah, sakit, aku menghindarinya....bukan karena Dimas tidak lagi setia,  dia sebaik sebelumnya, meski kini dia duduk dikursi roda dengan satu kaki. Kecelakaan mobil yang membuat dunia kami menjadi abu-abu.

 " Aku mengerti sayang, pergilah…Jangan merasa bersalah, berbahagialah. Aku selalu mendoakanmu " 
sms Dimas seminggu lalu kubaca ulang, air mataku mengalir deras.

Alangkah egoisnya  aku, bagaimana bisa aku mencampakkan lelaki sebaik Dimas. Aku ambil handphoneku,

" Halo Dimas,..maafkan aku, aku tidak akan meninggalkanmu…aku masih mencintaimu “

 " Maaf Zarra,...aku yang meninggalkanmu, jika berkenan hadirlah lusa dipernikahanku " Dimas menutup telfonnya perlahan, " aku berbohong " bisik hatinya ... karena dia tahu zarra tidak akan datang. 


* Fiksi ini di ikutsertakan pada :
 #Postcardfiction# kampung Fiksi  dan di sponsori oleh SmartFren

 

 Image From Google


25/12/2012

Tentang menikmati perjalanan


Disinilah aku,...menikmati hari libur dengan seharian tidur dikamar karena nyeri seluruh persendian, demam, dan flu juga radang meski bertahan untuk tidak minum antibiotik atau obat. Tubuh lemas dan limbung setiap mencoba bangun dari tidur, alhasil sejak kemarin full aku hanya istirahat di rumah dan meminta pemakluman dari kaka dan sean untuk membiarkan bundanya istirahat dulu setelah seharian full di hari minggu berjibaku di Dunia fantasi- Ancol.

Untuk hari yang seru itu say thank you untuk pihak Dufan-Ancol yang sudah mengundang beberapa blogger menikmati wahana baru dan keseruan aneka permainan disana. Semoga misi pihak Ancol menjadikan Dufan-Ancol sebagai salah satu tempat wisata terbesar dan terlengkap di Indonesia bahkan Asia tenggara menjadi kenyataan. Bravo Dufan- Ancol.... ;)

kembali ke tema " Demam " ku, beberapa temanku bertanya tentang hal ini. Mereka sepertinya menyadari atau tepatnya memperhatikan bahwa tubuhku selalu nge-drop setiap habis berkegiatan atau melakukan aktifitas sedikit melelahkan. Jika yang lain bisa tetap Fit maka aku perlu sehari atau dua hari untuk istirahat. 

Trus memangnya kenapa ? tanya ku pada salah satu temanku, karena aku mudah lelah atau nge-drop aku gak boleh menikmati hidup, begitu ? 
Harus terus menerus jaga kondisi supaya gak sakit karena antibodiku gak sekuat kalian ?
lalu kapan aku menikmati hidup ? aku sedikit ngedumel meski didalam hati.

Hidup itu perjalanan, singkat....sebentar ! lalu diperjalanan yang sebentar ini aku harus bersikap tegang dan over protect tentang kondisi tubuhku hanya karena aku seorang penyintas? NO.... lalu apa enaknya sebuah perjalanan jika tidak dinikmati ?
Jika hidup begitu singkat, mengapa tidak kita nikmati.... Jika bisa melakukan apapun saat kondisi kita memungkinkan melakukan itu, aku memilih melakukannya dan menikmatinya. Setelah itu aku jatuh kelelahan atau sakit,...thats Fine, setidaknya aku menikmati perjalanan singkatku. Dan saat merasakan sakit, mari kita nikmati juga setiap rasanya... kita nikmati rasa nyeri yang kadang menyiksa dan menikmati proses menjalani pengobatannya.
Hidup hanya soal menjalani, mensyukuri, menikmati.... teman ;)

Menikmati bukan berarti cuex atau mengabaikan ya ? menjaga kesehatan aku rasa bukan hanya keharusan bagi para penyintas/survivor saja, menjaga kesehatan sudah tentu kewajiban semua orang karena salah satu bentuk syukur kepada Sang Pemberi Nikmat.

Hemmm, ngomong-ngomong soal komentar temanku pada kondisiku, rasanya wajar saja... kenapa juga aku harus menulis apapun yang aku rasa di bb atau twitter sih ? #jitax#. Tapi jika itu kadang sedikit melegakan, rasanya gak papa kali ya dan komentar-komentar cukup ditanggapi dengan senyum manis saja :)

Tiba-tiba aku merasa bersyukur, saat aku menjalani proses terburuk dalam hidupku... aku tidak senarsis saat ini heuheu...atau bisa jadi karena saat itu sosial media belum menjadi salah satu bagian kehidupan manusia modern yang lebih mesra sama gadgetnya dibanding sama pacarnya. Tidak terbayangkan, bisa jadi status BB dan FB ku temanya sama saat itu yaitu#RS#

Seperti " saatnya untuk khemotheraphy,.... rasanya sesuatuh bangettt " atau jangan-jangan aku menulis " haiii,...aku baru keluar dari ruangan operasiku yang kedua kalinya " atau bisa jadi aku akan upload fotoku di atas kursi roda dengan status " Asyiik juga naik kursi roda ini, jadi pengen beli buat jalan-jalan di mall "

Xixixixii,... Hidup tentang bagaimana menikmati, tidak perlu ditakuti tapi selalu kucoba memahami setiap pasang surutnya.
Ini caraku,...cara teman-teman bisa jadi berbeda :) 
Selamat berlibur ya..... 
 


Image From Google
 
 

21/12/2012

Flashfiction : " Cinta pada tiga hati "



Rumah kost mewah khusus wanita ini memang sangat nyaman, mendadak menjadi  terasa pengap .

  Bagaimana bisa kamu memutuskan akan menikah dengan dia ? “ pekikku marah, aku menatapnya  dengan tajam. 
Aku yakin suara kami jelas terdengar hingga keluar kamar kost ini, dan aku tidak perduli. Aku tidak akan membiarkan Rhea bersama lelaki brengsek seperti Ryan. Sahabatku yang cantik itu menatapku dengan penuh tanda tanya.

 “ Ada apa denganmu Dev? Ryan adalah kekasih yg baik, kenapa aku tdk boleh memutuskan menikah dengan dia ? selama 1 tahun lebih kamu memang sahabatku, tapi aku keberatan dengan sikapmu ini”

Aku menatapnya diam, Rhea lalu berlari keluar kamar dengan mata berkaca-kaca dan penuh amarah.  Entahlah apa yang aku rasakan, aku mencoba menahannya selama ini bagaimana bisa hari ini aku lepas control dan membuat Rhea terluka seperti tadi.
Aku mengurungkan langkahku untuk mengetuk pintu kamarnya, dan berbalik menuju kamarku,gelisah.


Hampir tiga minggu Rhea menghindariku, setiap aku mengetuk kamarnya dia tidak pernah menjawab meski aku tahu dia berada didalam kamar. Tapi aku yakin malam ini dia akan mencariku,…
Matanya basah saat berdiri didepan kamarku, aku memeluknya dan mengajaknya masuk kedalam kamar.

“ Aku gak percaya Ryan melakukan ini padaku Devi, bagaimana mungkin ? selama ini aku tahu dia sangat mencintaiku. Dua tahun kami pacaran,kami bahkan akan bertunangan.”

“ semua lelaki itu brengsek, Rhea… begitu juga Ryan “

“ aku melihat foto mesra Ryan dengan pakaian yang sekedarnya dengan seorang wanita, sayang wanita itu hanya terlihat punggungnya saja,di dalam kamar”  Rhea semakin histeris dan aku kian erat memeluknya.



Ryan mengacak rambutnya, wajahnya frustasi 
“ Rhea minta kamu jangan menemuinya lagi “

“ Kamu menjebakku? kita tahu wanita di dalam foto itu kamu “

Aku menatapnya dingin lalu meninggalkannya.  Ini bukan tentang kamu dan Rhea tapi tentang cintaku pada Rhea. Rasa cintaku yang mendalam,.....



Image From Google


15/12/2012

#Postcardfiction : " Surat untuk Tiara "


Tiara kesayangan bunda,....

Hari ini bunda sangat rindu padamu, rasanya ruangan ini seolah tanpa udara hingga bunda terasa sesak. Padahal baru kemarin lusa putri cantik bunda kesini, membawa bunga, ciuman juga pelukan hangat. Kau bercerita tentang teman dan sekolahmu, lalu matamu gerimis ketika ayah mengajakmu pulang.

Sayang bersabarlah,... tinggal beberapa seri lagi nak setelah itu kita akan berkumpul kembali. Akan ada masakan kesukaanmu lagi, usapan dipunggung sebelum tidur, dan kecerewetan bunda yang memintamu belajar, mandi sampai pergi mengaji.  

Apakah ayah atau eyang bercerita padamu,nak... mengapa bunda lama menginap disini? Apa mereka menjelaskan mengapa rambut bunda sekarang nyaris habis? mengapa kulit dan kuku bunda menghitam ?

Sayang, bunda akan bercerita padamu... setiap hari tante suster yang baik membawa bunda dengan kursi roda kesebuah kamar khusus. Kamarnya bagus, ada bunga dimejanya dengan jendela menghadap sebuah taman, jadi bunda leluasa memandang dan tidak akan merasa bosan meski bunda sendirian. Lalu tante suster yang baik itu memasukan cairan obat melalui lubang kecil bernama intravena ditangan bunda. Rasanya tidak sakit kok, itu akan membantu bunda sembuh, setelah itu bunda akan beristirahat sambil merindukanmu.

Cairan itu memang membuat rambut bunda habis dan sering muntah, tapi cuma sebentar kok sayang. Oh iya, Tiara suka melihat bunda memakai wig atau selendang ? nanti kita beli dan tiara yang pilih ya.

Sayang,...masih ingat cerita bunda tentang kasih sayang Allah ? iya,... Allah sangat menyayangi kita, terlebih dirimu. Khusus untuk bunda, Allah ingin bunda banyak beristirahat... tidak terlalu sibuk. Nanti bunda hanya ingin merawatmu dan ayah, tidak sibuk arisan atau kesalon saja, tapi lebih rajin beribadah padaNya. 

Bunda pasti pulang sayang,...untukmu dan ayah, doakan bunda sembuh dan om dokter segera mengijinkan bunda pulang kerumah ya.

                              ----------*********-------------

* Seorang ayah memangku gadis kecil berusia 6 tahun didepan ruang ICU, selembar surat digenggamannya.  " Bunda pasti bangun, sayang.... " bisiknya lirih.  

# 300 kata

14/12/2012

Episode Make up dalam warna cinta



Salon dan make up sudah tentu identik dengan wanita ya, sayangnya make up tidak terlalu akrab nih dengan wajah saya. Kosmetik dasar tentu  punya tapi kalo perangkat lenong #istilah mba ayank mira , jelas gak selengkap itu.

Kenapa gak suka bermake up ? katanya menurut keluarga saya juga menurut beberapa orang yang mengerti tentang kecantikan , wajah saya itu tipe wajah alami yang lebih pas jika tanpa make up alias polos. Kalau pun ingin bermake up cukup tipisss saja.

Itu sebabnya saat mba mira ayank  mengajak saya untuk ikut ke acara # Tribute To Mom # yang diadakan oleh majalah muslimah NOOR di hotel Sahid Jakarta, membuat saya sedikit bingung. Sudah pasti melihat tema acaranya, saya harus sedikit berdandan nih,
Setelah diskusi soal pakaian yang akan kita pakai, dengan dress code casual elegant rasanya saya cukup mengaduk-aduk lemari pakaian saja. Mba mira sempat menyarankan untuk pergi ke salon sebelum acara, tapi krn salon yang recomended menurut mba mira yang juga founder komunitas KEB ini cukup jauh, kok ya saya malas.

Apalagi setelah melihat hasil make up- an nya mba mira sendiri, akhirnya saya berhasil membuat dia mau mendandani wajah polos saya :D  

Seperti kebiasaan kita kalau ada acara dijakarta, dengan murah hati mba Mira memberi saya tumpangan hehee... kami janjian di Bekasi Square, saya sengaja memarkir mobil saya di parkiran dalam/basement. Disana mba Mira sudah menunggu dengan jessy nya, saya lalu mengunci mobil saya dan pindah ke mobil mba mira. Disinilah wajah saya mulai di dempul, yup...didalam mobil hehe...:p

Saya akan dianggap hoax nih kalau gak ada bukti, biarkan gambar yang bercerita saja ya, bagaimana sahabat saya itu mendandani saya dan membuat saya takjub dengan kecanggihannya bermake up ;) *terbukti byk yg memuji make up di wajah saya*

 *Ini wajah saya yg sengaja dari rumah gak pake apa-apa alias polos tanpa sentuhan bedak sama sekali

 *Dan ini saat prosesi didandanin di dalam mobil sm mba Mira ayank , dengan pasrah saya biarkan wajah saya dipermak sedemikian rupa :D


* Dan ini dia hasil sentuhan tangannya,... ^_^

 
Dan beberapa gambar yang terekam hasil bidikan kamera ayah Dian Kelana
Dalam acara penganugerahan Ibu teladan 2012 oleh majalah Noor di Puri ratna hotel Sahid Jakarta tanggal 12 Desember 2012 kemarin. Kalau gimana keren dan serunya acara kemarin kita tunggu mba Mira yang bercerita di blog personalnya ya ;)




Iihh,... Full colour ya, terima kasih untuk foto-foto indahnya ayah angkat kami dian kelana :) 
Dan untuk sahabatku,...terima kasih ya untuk sentuhan tanganmu, saya yg agak anti dandan mendadak happy memakai gincu, eye shadow dan bulu mata xixixiii.... Episode make up dalam warna-warni cinta/ pink pada tanggal cantik di  12-12 12  menjadi salah satu episode manis dibulan terakhir penghujung tahun ini ;)

  



11/12/2012

Yang tertinggal pada telisik angin bulan Mei



 Jalanan  merayap padat Gie, langit bersahabat meski beranjak petang dan aku diam memandang lurus kedepan , membiarkan lagu kita terus berputar ulang  sedang tanganku menyetir meski ingatan ku tertuju padamu. 

Aku ingat ketika hari terakhir kita Gie, iya hari itu... ketika kita bertemu untuk terakhir kali. Ketika kita, tepatnya kamu kembali 'waras' dan memutuskan berkata 'cukup'
Cukup untuk menjalani apa yang dulu kita sebut 'cinta', cukup untuk berhenti bicara betapa kamu mengasihiku. Gie,...kita tidak banyak bicara saat itu, aku hanya terus memandangmu. Merekam semua yang melekat pada seorang Gie, caramu memandang, caramu bicara , caramu menggenggam jemariku dan caramu menciumku.
Semua Gie,...aroma parfummu, rambutmu, lengan bahkan kemeja yang kau pakai. Semua yang ada padamu kurekam dan kusimpan dengan begitu rapih dilubuk hatiku.

Kau juga tidak banyak bicara, entah apa yang kau fikirkan karena matamu juga resah. Apa kau juga sedih karena kita akan berpisah ? apakah rasa sakitmu juga separah sakitku Gie ?
Apa kau juga menahan air mata seperti aku ? 
Kita berpelukan erat, aku memelukmu dan berharap waktu membeku selamanya. konyolnya aku,... bahkan ketika akhirnya bayanganmu perlahan hilang, bibirku masih membeku.

Kau sudah pulang ke tempat dimana seharusnya kau berada Gie,.. dan itu sudah lebih dari dua tahun yang lalu. Sayangnya hingga kini aku masih merasakan sakit yang sama seperti ketika kau pergi.

" apa kabarmu kristal ? " suaramu mendadak begitu jelas Gie, ya... begitu jelas dan begitu nyata. Berdiri dihadapanku dengan wajah yang sama, dengan senyum yang sama, mata teduh yang sama. Tapi, sinar itu hilang tanpa jejak... bahkan aku tidak melihat sedikit pun bayangan ku disana. Aku mengutuk waktu karena masih membiarkan aku berdiri pada zona dimana terkadang sosokmu terlihat disana. 

Kupaksakan bibirku tersenyum, dan aku tahu mungkin kau masih melihat dengan jelas bayanganmu dikedalaman mataku. 

" Lupakan aku kris, jangan membuang waktumu untuk mengingat sesuatu yang sudah berlalu. Hidupmu indah, coba lah untuk berbahagia. Kita tidak mungkin kris, mereka membutuhkan kita. Aku ingin kau bahagia..dan aku yakin kita bisa "
 
Aku tersenyum " tentu Gie, kamu tidak tahu betapa bahagianya aku saat ini bersama Arga. Jangan berfikir aku masih mencintai kamu, rasa itu sudah jauh terkubur bahkan hilang. Aku bahagia saat ini... sangat bahagia "

Aku memejamkan mata, dan tersentak oleh suara klakson panjang dan antrian mobil berbaris dibelakang, mobilku diam tak bergerak sedang lampu hijau menyala sejak tadi.
Dan pertemuan sekilas beberapa hari yang lalu sontak hilang dari lamunanku.

Mudah itu untukmu Gie,...kenapa? karena hatimu tak seperti hatiku. Karena lukamu tak separah lukaku. Jangan bertanya kabar dan menguatkan aku...jika dulu aku berharap waktu berhenti saat bersamamu, kali ini aku berharap waktu tak pernah mempertemukan kita.

Segera kupacu mobilku, cepat meninggalkan mobil lain... meluncur dan berkelok, berharap segera sampai dirumah. Satu hal yang aku sesali Gie, aku belum bilang betapa aku mencintaimu. Betapa berharganya kenangan dan hari-hari kita dulu, aku dulu belum mengatakannya meski kini tak ada gunanya jika diucapkan.
Kamu tahu Gie,...arga tahu bagaimana perasaanku, dan inilah hukuman yang tengah kujalani karena berani jatuh cinta pada sesuatu yang bukan milikku.

" Kita bertahan disini demi anak semata wayang kita Kris, aku tahu perasaanmu sejak awal dan kamu juga tahu aku terlalu lelah meyakinkan kamu. Aku sudah tidak berharap banyak pada ikatan ini. Kita lihat sampai dimana kita bisa bertahan" Arga menatapku tanpa ekspresi, saat aku mengakui bahwa perjalanan kami selama ini tidak cukup menumbuhkan cinta luar biasa. Hingga akhirnya hadir kamu Gie, arga tahu perasaanku meski dia tidak tahu bahwa kamulah pemilik hatiku.

Aku melangkah masuk ke dalam rumah, di meja rias tertempel selembar note kecil bertuliskan tangan Arga " aku menginap dua malam di villa, Bintang aku ajak "
Aku remas selembar note itu, berjalan berkeliling ruangan di dalam rumah. Ada rasa sunyi yang terasa menusuk hati, aku bahkan tidak memiliki siapapun. Tidak Arga,... tidak juga kamu, Gie... aku sesunyi langit malam tanpa bintang. Kau tidak akan pernah tahu Gie,..aku harap aku cukup meyakinkanmu bahwa aku baik-baik saja.

Aku biarkan air dingin mengucur membasahi seluruh tubuhku, mandi lalu berwudhu.
Aku biarkan bibirku khusuk menyebut namaNYA, aku lebur kehampaanku diatas sajadah dan aku tahu, aku masih dan akan slalu bisa menggandalkan DIA ditiap saat hidupku.
" Rabb,...mungkin kini tiba saatnya dimana aku harus mengerti, bahwa ada orang-orang yang hanya Engkau hadirkan didalam hati tapi tidak dalam kehidupan. Bolehkah aku kembalikan rasa ini padaMU...? aku tidak ingin menyimpannya lagi. "

Angin dingin bulan Mei pelan menelisik melewati kisi-kisi jendela yang masih terbuka, membawa cerita-cerita pada masa lampau melewati waktu menemui masa kini. Hening...


~ The End ~

Mendadak ingin belajar menulis cerita fiksi, ternyata menyenangkan membiarkan imajinasi dan khayalan kita berkelana. Meramu kata menjadi cerita,... yang kadang terlintas begitu saja, cerita yang kudengar, atau kutemukan pada tumpukan lagu atau puisi. Komentar dan kritikannya ya sob... :)     


 Image FromGoogle