27/09/2013

Matahari


By Here

Kali ini aku ingin matahari yang sejati. Matahari yang tinggi di tiang singgasananya yang jumawa. Matahari yang andai bisa mengubah warna hatiku yang temaram menjadi seterang siang, seperti membakar kulit pucat menjadi kecoklatan yang eksotis.
Aku ingin matahari yang menyilaukan pandanganku, memaksaku memakai topi atau kaca mata berbingkai lebar dan kaca hitam. Aku ingin matahari yang terik, yang mengeluarkan peluh dari seluruh pori-pori.

Mengapa,...??
Aku tidak menginginkan siapapun bertanya mengapa, karena aku tidak ingin menjawab.

Karena , Matahariku...
Aku hanya ingin cuma kamu yang menyilaukan pandanganku, mengaburkan kebekuan embun pagi hanya dengan menatapmu. Aku hanya ingin kamu yang mengalirkan kehangatan cahaya, yang setianya di lakukan Sang Surya. Tidak perduli kamu mematikan kuncup dan putik karena kamu memang terik. Aku bahkan tidak perduli saat kulit pucatku menjadi coklat,bahkan menjadi legam.

Meski aku diam tapi kamu tak pernah dalam diam, tidak sembunyi atau berlari.
Kamu tegas menjejak kuat dan menanam pengharapan yang nyata meski kadang konyol dan sia-sia. Katamu semua yang berlabel aku tidak pernah sumbang. Tidak pernah semu...
Kamu hanya memberi, hanya menyinari... tidak perduli aku ada atau tiada bagimu aku selalu nyata. 
Bagaimana aku bisa bernafas dalam ruang melingkar yang kau bangun terlampau kuat, lalu akhirnya kamu bernafas untukku. Hatimu milikku,... 

Aku ingin berbisik,... aku ingin bicara, aku ingin kamu tahu meski aku tidak tahu bagaimana agar kamu tahu. Mataku berawan selama kamu berkisah tentang pencarianmu menemukanku, kamu bahkan mengantri waktu begitu lama pada semesta untuk bertemu denganku. 
Tidakkah kamu lelah,...? tidakkah kamu marah... 
Kamu hanya diam ketika rindu beradu cemburu karenaku, sampai saat ini kadangkala aku masih meraba hatimu, kamu terlampau pandai menutup rahasia hati. Kamu terlalu kuat bersembunyi, cukup dengan memeluk namaku dan kamu melewati sekian waktu dengan berlari.

Berhentilah Tuan,...  
Aku disini, jika katamu hatimu milikku sampai kamu mati...bagaimana bisa aku mengabaikanmu mati hati sendiri. Aku disini... untuk menemani hatimu. 

By : Bukan Senja tapi penanti cahaya

8 comments:

  1. tampilan blognya baru ya mak? tambah keren lho.... #gagalfokus#

    ReplyDelete
  2. Aduh... Aku tersentuh nih... jadi ingat seseorang... :)
    salam hangat..

    ReplyDelete
  3. Hmmm,.. lagi, ada tulisan yg menginspirasi, meski bukan senja tetap saja ini adlah tulisan yg sama indahnya,,,, siapakah gerangan penanti cahaya ? penasaran ! :)

    ReplyDelete
  4. Uah, so 'bikin gelagap dan sinarisasi hati' kalau baca di atas..
    esensinya seolah sang pemberi hati 'si mas matahari (kayak departmen store yak)' orang yang sangat ikhlas ya mak.... (eh bener kan panggilannya emak? ngikutin komen di atas...)... mataharai yang akan sellau memberi meski tidak diminta..

    :eheuy

    BTW salam kenal emak... :D

    ReplyDelete
  5. Matahari adalah salah satu bukti semangat yang harus kita pelajari.

    Lihatlah dia tidak pernah lelah untuk menyinari dunia.

    Salam untuk matahari-matahari yang tangguh itu ya.

    Thanks dari Jember.

    ReplyDelete
  6. Hemm warna baru ini Blog, kok saya bervariant biru sih Mbk blog kita.

    Heheheheee. Sudah Ku Follow blognya.

    Terimakasih.

    ReplyDelete

Terima kasih kunjungan dan komentarnya, salam.... :)