06/10/2013

Rumah Abadi Hanya Ada di Langit




 Dok. Pribadi 

Seperti bumi yang menerima dengan rela,
rintik hujan dan terik membakar dari sang surya.
Aku ingin dengan rela menerima segala,
tidak menangis ketika badai menerbangkan sukaku.

Seperti daun-daun kering ,
luruh jatuh ke tanah terinjak kaki-kaki
 tidak terluka dan marah pada angin,
yang menerbangkan dari ranting dan pohon.

Meski tak seteguh karang-karang,…
yang kukuh meski diterjang gelombang,
aku ingin menjadi aliran sungai kecil,
tenang,… sopan pada perahu-perahu
ramah pada ikan-ikan, tapi sampai di lautan.

Pada perjalanan yang membawaku pada arus dan gelombang,
aku ingin menjadi diam,
diam menerima,
diam dengan ikhlas,
diam bersama senyuman,
karena kehidupan adalah menerima dan dipahami dengan indah
karena kehidupan tidak kutakuti,
hanya ingin ku jalani , kunikmati dan ku syukuri…
  
* Mengabadikan catatan hati pada dinding virtual meski rumah abadi hanya ada di langit, karena masa muda abadi hanya ada di langit... * 

Note :  Sedang menikmati efek obat, MasyaAllah... *balikin semua cermin*  

8 comments:

  1. kok teteh sedih, ya?
    (*peluk neng ir

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku baik teteh, jangan khawatir *hug :)

      Delete
  2. Tetap semangat, mak cantik... *hug*

    ReplyDelete
  3. *Tarik napas...
    Iya, rumah abadi hanya ada di langit.. semangat ya,mak. *hug

    ReplyDelete
  4. Salam senja,..

    "seperti bumi yg menerima dengan rela dan seperti langit yang memberi perlindungan,..

    semakin terasa indahnya tulisanmu. :)

    ReplyDelete
  5. Ibu guru memang selalu juara kalau urusan membuat puisi. suka banget.

    btw rumah barunya semakin nyaman bu guru.

    ReplyDelete

Terima kasih kunjungan dan komentarnya, salam.... :)