13/11/2013

Humaira


Credit


Aku masih di sudut ini, siku dari sebuah ruang bernama kehidupan.
Tidak ada yang akan menyadari betapa tatapanku hanya lurus memandang ke satu titik.
Saat bola mataku yang hitam hanya menujumu.

Kamu seperti drama Tuan,
yang tidak sejak awal tayang sudah aku gandrungi.
Tapi disetiap episode lanjutannya aku terpesona dan tidak bisa berhenti,
bahkan untuk sekedar mengalihkan pandangan.

Ini bukan tentang pesona visualmu yang membiusku,
ini tentang debaran tak kasat mata yang kau alirkan diam-diam lewat semesta.
Dan menemukanku dalam gelombang yang sama.
Ini tentang lintasan ingatanmu yang terus kau hidupkan,
meski waktu berjalan cepat atau lambat.
Apa dayaku Tuan,...Pintamu pada agen kehidupan mengikis kesombongan dan arogansiku.
Sekian tahun pengharapan dan klise impian,
luluh lantak begitu saja lalu kita berada dalam galaksi yang berputar seirama.
 
Episode kita kali ini jauh melewati kalam takdir,
serupa badai yang meruntuhkan dan menerbangkan.
Melemahkan persendian hingga membekukan aliran darah.
Mematikan logika, menumpulkan naluri.
Namun begitu kuat menajamkan indera perasa bernama hati...

Aku masih berada dalam sudut yang sama,
sudut dimana kau jadikan tempatmu pulang atas nama cinta.
Sudut yang menjadi bahan bakar dua organ bernama hati
yang berdegup dan membakar sendiri.

Episode kita berlabel bertahun-tahun penantian,
Episode yang berjalan dalam titian harapan dan impian.
Merindu yang diam-diam, mencinta yang tanpa suara.
Karena lakonmu dalam hidup bukan bersama Humaira, tapi nama yang lain.

Sekian,...Tuan.

Menulis adalah salah satu caraku refreshing, dan puisi atau fiksi membawaku terbang menemukan sejuta rasa yang tersimpan, terabaikan, bahkan yang dihadirkan untuk melengkapi setiap bait dari rima dan alinea. Jika menulis artikel adalah data maka puisi adalah rasa...
Rasamu, rasaku, atau hanya rasa yang lahir karena imajinasi yang tanpa batas. 

13 comments:

  1. Salam kenal ya...... numpang baca-baca niihh

    ReplyDelete
  2. puisinya indah dan dalam...saya penikmat puisi mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mba :), salam kenal yaa....

      Delete
  3. Katakatamu selalu membiusku, seakan enggan untuk berhenti menyimak tulisanmu :)

    salam,, langit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Langit,... tulisanmu jg indah ;)

      Delete
  4. Puisi indah seperti ini selain pertanda cita rasa yang tinggi juga kemahiran dalam merangkai kata-kata pilihan.
    Terima kasih jeng atas puisi yang penuh makna.

    Dengan bangga saya mengundang sahabat untuk mengikuti Kontes Unggulan Proyek Monumental Tahun 2014
    Silahkan cek syarat dan ketentuannya di http://abdulcholik.com/2013/11/01/kontes-unggulanproyek-monumental-tahun-2014/

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  5. wauuuu kata2nya sangat runtut halus dan enak di baca...
    inilah kelebihan adik Irma yang belum aku bisa..
    belajar disini dulu deh....

    ReplyDelete
  6. aahh kenapa keren sekali toh mbak bikin puisiii nya :D

    ReplyDelete
  7. Merindu yang diam-diam, mencinta yang tanpa suara......
    Subhanalloh mbak...ikut terbawa aku membacanya :)

    ReplyDelete
  8. Puisi yang indah....
    saya suka....
    salam..

    ReplyDelete

Terima kasih kunjungan dan komentarnya, salam.... :)