31/08/2013

Kopi bukan hanya sekedar ngopi


Tema hari kelima dari #10daysforASEAN : 

" Sekarang ini minum kopi sudah menjadi bagian gaya hidup modern.Hampir diseluruh penjuru kota, tidak hanya di Indonesia tapi juga di ASEAN  banyak tersebar gerai kopi. Didunia, negara penghasil kopi  terbesar adalah Brazil, kedua Vietnam dan ketiga Indonesia. Kedua negara terakhir adalah anggota ASEAN, Menuju komunitas ASEAN 2015 ini, mampukah Indonesia dan Vietnam merebut pangsa pasar kopi dunia ? bisakah kedua negara tersebut menjadi partner produksi kopi,bukan menjadi rival atau pesaing. "

Saat ini kopi memang sudah menjadi gaya hidup, dari yang hanya penyuka sekedarnya sampai yang pencandu kopi yang menjadikan kopi sebagai minuman wajib mereka. Salah satunya sahabat saya Mira sahid yang menjadikan kopi bukan hanya sekedar pilihan saat duduk santai di coffee shop, tapi menjadi minuman wajibnya setiap hari bahkan sehari sampai beberapa kali. Ya kopi dengan efek cafeinnya yang membuat mata lebih 'terang' dan sensasi aroma dan rasanya yang berbeda. 


Jika Amerika punya Starbuck dan Vietnam dengan Trung nguyen nya, sayangnya saat ini Indonesia sebagai penghasil kopi terbesar ketiga belum memiliki brand yang mencitrakan kopi yang Indonesia. Padahal Indonesia memiliki kopi Luwak yang terkenal sebagai kopi Luwak terenak dan termahal didunia. Saya bukan penikmat kopi luwak, dan agak terheran-heran dengan aromanya yang terlalu khas menurut saya. Kopi luwak yang mengalami proses melalui pencernaan Luwak/musang, atau mengambil biji kopi sisa dari kotoran musang ini ternyata menjadi kopi termahal dan rasa terenak. Mungkin karena prosesnya yang unik itu ya. 


Indonesia memiliki sejarah panjang mengenai kopi yang berpengaruh pada perekonomian di negara ini. Sebagai negara ketiga terbesar sebagai penghasil kopi, dan dianugerahi letak geografis yang sangat baik untuk menjadi lahan perkebunan kopi. Seharusnya Indonesia bisa menjadi pengekspor kopi bagi negara-negara pengimpor kopi terbesar didunia seperti Amerika atau jepang dengan meningkatkan kualitas biji kopi menjadi kualitas terbaik. 
Indonesia dan Vietnam sebagai dua negara ASEAN juga bisa bekerjasama dan saling berbagi informasi untuk menyaingi Brazil dalam hal kualitas dan kuantitas produk biji kopi. Saling mencari inovasi atau cara untuk menanam lebih banyak kopi terbaik seperti Arabika, selama ini Indonesia dan Vietnam lebih banyak menanam kopi kualitas lebih rendah yaitu Robusta. Persaingan tentu saja menjadi hal yang lumrah terjadi sebagai dua negara ASEAN yang sama-sama menjadi penghasil kopi terbesar. Tapi dibentuknya ASEAN Economic Comunity 2015 nanti, yang akan memudahkan perdagangan antar sesama negara ASEAN diharapkan membuat kedua negara ini menjadi dua penghasil kopi yang bisa bersinergi bersama dan mampu mengalahkan pasar dunia. Dalam hal ini mampu menyaingi penghasil kopi terbesar dan kopi terbaik di dunia, Brazil. 


Kopi memang bukan hanya soal gaya hidup, rasa dan sensasi yang ditimbulkannya tapi juga memegang peranan penting bagi perekonomian sebuah negara. Menulis ini membuka mata saya, bahwa kopi bukan hanya duduk disebuah kedai, menghirup aroma dan rasanya. Ada para petani kopi yang menghadirkan keajaiban kopi di meja kita, yang harus diperhatikan kesejahteraannya. Saat ini sekitar 92 % kopi dihasilkan oleh petani-petani kecil di Indonesia. Semoga terbentuknya komunitas ekonomi di ASEAN2015 nanti akan meningkatkan kesejahteraan para petani kecil bukan hanya produsen besar saja. 


Tulisan ini diikutsertakan dalam : #10daysforASEAN






29/08/2013

Ketika berwisata ke Myanmar terganjal Visa


Tema hari keempat #10daysforASEAN semakin seru saja, alias semakin membuat kening saya berkerut. Beneran mengikuti lomba menulis 10 hari ngeblog untuk ASEAN ini lumayan berat untuk seseorang yang mengandalkan mood untuk menulis. *tutupmuka* 
Tapi menyerah juga bukan cara saya, " Sudah daftar ya buktikanlah kamu bisa ngeblog selama 10 hari untuk ASEAN" bisik hati saya menyemangati diri sendiri. Itung-itung bentuk dukungan saya untuk terbentuknya ASEAN Economic Comunity (AEC) 2015 nanti. 

Tema hari keempat #10daysforASEAN adalah : 

" Visa : Hampir semua negara ASEAN sudah membebaskan pengurusan Visa  bagi wisatawan yang akan berkunjung kenegaranya, namun tidak dengan Myanmar. kenapa ya ? berkunjung ke Myanmar gak cukup hanya dengan pasport saja. Perlu atau tidak Visa untuk perjalanan wisata "


Visa ? hemmm,...kalau pasport saya punya, tapi kalau Visa sayangnya belum punya gak ngerti seperti apa dan untuk apa. Tapi itu bukan alasan untuk nggak nulis tema ini kan ?. Pagi tadi sebelum suami saya berangkat ke kantor, saya sempatkan untuk bertanya soal Visa karena kebetulan beliau punya. 

Menurutnya Visa dan Pasport adalah sama-sama dokumen penting bila kita ingin melakukan perjalanan keluar negri untuk tujuan apapun. Entah untuk bekerja, berlibur, perjalanan bisnis, berobat dan lain-lain.  Jika pasport adalah dokumen berbentuk buku yang merupakan buku identitas diri kita yang dikeluarkan pemerintah Indonesia yang wajib diserahkan pada petugas imigrasi Indonesia dan petugas imigrasi negara tujuan.

Sedangkan Visa adalah dokumen tanda bukti ijin masuk yang dikeluarkan oleh negara yang akan kita tuju, kalau pasport berbentuk buku maka Visa berbentuk stiker yang nanti akan ditempelkan pada pasport kita. Contohnya jika kita akan ke Australia maka kita harus mengajukan permohonan pembuatan Visa ke kedutaan besar Australia atau negara yang ingin kita tuju yang berada di Indonesia. Karena permohonan pembuatan Visa memiliki banyak syarat, dikabulkan atau tidak tergantung lengkap atau tidaknya syarat yang kita penuhi. Jika permohonan Visa kita ditolak oleh kedutaan besar negara tujuan otomatis kita tidak akan bisa memasuki negara tersebut. Hufftt...ribet ya.

Nah berhubung Suami saya sudah hampir kesiangan jadilah pertanyaan-pertanyaan saya mengenai Visa seperti apa bentuknya dan kapan harus bikin visa ---> maksudnya kapan jalan-jalan supaya bikin Visa #Lol, harus terhenti begitu saja :D , dan dengan ringan meminta saya untuk bertanya langsung sama Om Google.

Untuk kunjungan ke negara-negara ASEAN ternyata kita gak harus bikin Visa, cukup berbekal pasport dan uang saku kita udah bisa masuk dan jalan-jalan ke hampir semua negara ASEAN kecuali Myanmar. Nah kalau temanya kenapa ke negara Myanmar kita harus tetep butuh Visa mungkin karena Myanmar adalah ' Negara baru ' di Asia, begitu juga di ASEAN. Kalau akhirnya negara Myanmar lebih selektif dan berhati-hati dalam memberikan ijin untuk mengunjungi negara mereka, menurut saya sih bisa di pahami. 



Myanmar adalah negara yang sedang berkembang, negara yang pernah dikenal karena  pelanggaran HAM nya dan rezim militer yang masih memegang kendali pemerintahannya. Jadi inget film berjudul The Lady yang dibintang artis cantik Michelle yeoh tentang kepahlawanan seorang tokoh wanita di Myanmar, Auk San Suu Kyi. Dimana digambarkan betapa ketat dan kerasnya pemerintahan militer di sana, hingga untuk masuk atau keluar negara itu begitu sulit. Bisa jadi karena Myanmar masih terus bergolak, mereka cenderung lebih berhati-hati untuk mengijinkan orang asing masuk ke negara tersebut. 

Untuk mereka yang senang traveling baik pasport apalagi Visa jelas penting dimiliki untuk perjalanan wisata. Dengan memiliki Visa negara mana pun tujuan wisatanya akan bisa didatangi.  Untuk yang belum punya Visa mungkin jalan-jalan di ASEAN aja dulu, untuk tujuan ke Myanmar tunggu penghapusan diberlakukannya VOA ( Visa On Arrival ) dulu kali ya.  Nah kalau saya saat ini belum membutuhkan Visa, saya lebih membutuhkan kartu ATM saja dengan saldo yang selalu terisi. Bukan Visa itu ???  *senyum 


Tulisan ini diikutsertakan dalam :  #10daysforASEAN 

28/08/2013

" Beauty of Khatulistiwa "


Hari ketiga #10dayforASEAN, temanya semakin seru :

" Indonesia kaya dengan beragam budaya, namun di sektor wisata, Malaysia lebih berhasil mem-branding “Truly ASIA”. Kira-kira apa ya branding yang cocok untuk Indonesia? Buat tagline, dan jelaskan kenapa tagline itu cocok untuk Indonesia di kawasan ASEAN "

Wah agak lumayan membuat kening berkerut nih, tapi saya coba ahh siapa tahu tagline yang saya buat malah jadi tagline beneran untuk Indonesia #ngayal  -__- 


Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat didunia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Negara yang besar, baik dari wilayah maupun jumlah kependudukan. Negara yang terdiri dari kepulauan dan negara yang memiliki keaneka ragaman hayati terbesar kedua didunia. Terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda namun hidup rukun dan berdampingan. Memiliki keindahan alam dan laut yang mampu mengundang para wisatawan internasional. Dengan kultur budaya yang beraneka ragam, memiliki banyak suku bangsa dan bahasa. Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun satu tujuan. Indonesia juga memiliki kekayaan sejarah perjuangan yang panjang, Indonesia meraih kemerdekaan dengan perjuangan bangsanya sendiri. 

Salah satu budaya Indonesia 

Tidak ada yang memungkiri keindahan alamnya, gunung dan lautnya, pulau dan pantainya. Dan siapa yang tidak terkesan dengan keramahan tamahan penduduknya, kelezatan dan keunikan aneka makanannya. Siapa yang tidak jatuh cinta pada keteguhan Gunung bromo, dan keelokan Puncak jaya. Atau Danau kelimutu, candi Borobudur, pantai Lombok, atau Bali yang eksotis yang terkenal hingga ke mancanegara. Atau jalan-jalan impian saya ke kepulauan Raja Ampat yang memiliki keindahan alam laut yang mempesona. Indahnya Indonesia,...

Credit 

Salah satu keindahan alam Indonesia :D

Tagline yang pas untuk menggambarkan keindahan, dan keanekaragaman budaya Indonesia menurut saya adalah  " The Second heaven on The Earth " 
Berlebihan tagline nya ya ? bisa jadi, tapi jika saya diminta untuk membuat tagline untuk negara saya tercinta maka tagline itulah yang akan saya berikan.

Benar, jika indonesia juga memiliki banyak kekurangan. Kepadatan penduduknya, banjir, segala macam masalah sosial budaya, ekonomi, politik menjadi dilema negri ini. Tapi Indonesia tetap menjadi surga ( kedua ) bagi saya dimana keluarga dan saudara-saudara sebangsa saya tinggal. Dimana saya dilahirkan dan menghirup indahnya kehidupan. Bahkan  bagi para pelaku korupsi pun Indonesia adalah surga bagi mereka. #Lol

Tapi jika tagline " The second heaven on the earth " gak eye catching saya berikan pilihan lain dari 25 tagline  yang saya buat melalui ngelamun panjang seharian ini.  Dengan alasan-alasan yang sama seperti deskripsi saya di atas tagline kedua untuk Indonesia adalah  " Beauty of Khatulistiwa "  Kita tahu bahwa khatulistiwa adalah sebutan untuk Indonesia. Jika di negara-negara ASEAN begitu terkenal tagline Malaysia dengan " Truly ASIA " maka indonesia dengan  " Beauty of Khatulistiwa ". --->  keindahan negri yang dilewati garis khatulistiwa.

 " Beberapa negara ASEAN yang wajib dikunjungi untuk destinasi liburan anda adalah, Truly ASIA, Negri kubah emas Brunei Darusallam dan  Beauty of Khatulistiwa, Indonesia "  hhhmmm... cocok !.



Dua Candi di Dua Negara Serumpun.


Hari kedua mengikuti lomba ngeblog #10daysforASEAN saya masih bersemangat dan semoga saja tetap terjaga semangatnya hingga hari kesepuluh, amin. Lupakan hasil akhir deh, saya sedang menikmati prosesnya untuk belajar konsisten menulis setiap hari. Lagipula gak ada ruginya mengikuti event keren ini. Siapa tahu saya bisa lebih pintar setelah ini :D.

Tema hari kedua dari #10daysforASEAN adalah :

" Sudah pernah berwisata ke candi Borobudur ? Menurut penjelasan ahli sejarah, relief Borobudur ada kemiripan dengan Candi Angkor Wat, yang berada di Kamboja. Padahal, Borobudur dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat ada. Apakah ini menandakan bahwa negara-negara di ASEAN itu serumpun ? Apa pendapatmu mengenai hal itu ? "


Kalau candi Borobudur sudah pasti saya tahu dan pernah mengunjunginya di kota Magelang Jawa tengah beberapa tahun lalu. Candi ini adalah candi terbesar di dunia, bahkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Candi yang di bangun sekitar tahun 800 sebelum masehi atau abad ke 9 ini  memakan waktu pembuatan hampir setengah abad. Candi ini dibangun pada masa kejayaan dinasti-dinasti. Raja Samaratungga disebut sebagai pendiri candi ini, mengingat lamanya pembangunan candi ini baru bisa diselesaikan pada masa pemerintahan Ratu Pramudhawardhani putri dari Raja Samaratungga. Sementara arsitek yang membangun candi ini menurut cerita turun temurun bernama Gunadharma. 

Sedangkan candi Angkor Wat yang disebut juga sebagai candi terbesar kedua setelah candi borobudur ini adalah sama-sama kuil hindu yang berada di Kamboja yang dibangun pada masa pemerintahan Suryavarman ll . Dan sayangnya saya belum melihat keindahannya secara langsung. Secara fisik candi Angkor Wat adalah kawasan ibadah dengan bentuk persegi. Candi yang tersusun terdiri dari 5 hingga 10 juta susunan batu bata yang terbentuk dengan tersusun dan terstruktur dengan indah. Candi ini juga tampak megah dan penuh misteri.


Candi Borobudur dan candi Angkor Wat sama-sama memiliki bentuk yang besar, berundak dan luas. Sama-sama di bangun dari tumpukan batu yang sampai saat ini masih misteri bagaimana cara pembuatannya. Borobudur dibangun 3 abad lebih dulu dibanding candi Angkor Wat di Kamboja. Jika menurut ahli sejarah kedua candi ini memiliki kesamaan relief, apakah kesamaan itu bisa menjadi satu alasan bahwa Indonesia dan Kamboja itu serumpun ? Bahwa negara-negara di ASEAN itu serumpun ?

Kenyataan bahwa candi Borobudur dan candi Angkor Wat memiliki kesamaan relief bisa saja menjadi salah satu ciri, kita adalah dua negara serumpun. Atau seperti ahli sejarah yang menuliskan bahwa kedua candi itu di buat oleh seseorang yang sama-sama bernama Gunadharma, meski candi Borobudur dibuat 3 abad lebih dulu ??. Bisa jadi pembuatnya masih berada dalam garis keturunan yang sama hingga meski berbeda generasi memiliki kesamaan dalam pembuatan reliefnya. Entahlah...

Meskipun saya pikir mengapa kita disebut negara satu rumpun dengan Kamboja bukan karena persamaan relief ini saja. Indonesia juga disebut negara serumpun dengan beberapa negara lainnya, seperti Malaysia, Brunei Darusalam, bahkan Filifina (ASEAN). 
Mengapa disebut negara serumpun ? karena kesamaan ras, bahasa dan kultur budaya, bahkan wilayah kita bertetangga yang membuat negara Indonesia dan beberapa negara tetangga menjadi satu rumpun. Negara serumpun juga mengandung makna persaudaraan yang kuat. Saling menghargai dan menjunjung kesetaraan, saling menghormati sesama warga dan antar negara.

Sebagai contoh, saat melakukan perjalanan ke Singapore beberapa waktu lalu. Saya masih menemukan banyak sekali kesamaan dengan Indonesia, saya masih merasakan atmosfir yang sama seperti di negri sendiri. Saya masih bisa makan nasi disana, cuaca yang tidak jauh berbeda dengan di negara tercinta, dan orang-orang yang juga memiliki bentuk tubuh ras yang sama yaitu Asia. Tentu akan sangat berbeda jika melakukan perjalanan ke negara Eropa. Sedangkan dengan Malaysia, Brunei, Kamboja, Singapore, dan semua negara ASEAN, dengan mudah kita akan melihat banyak kesamaan, karena kita adalah satu rumpun. Yang seharusnya memiliki hubungan lebih baik dibanding negara-negara yang lainnya. 

Ibarat sebuah perumahan, negara serumpun adalah tetangga terdekat kita. Jadi jika ada persamaan relief antara candi Borobudur di Indonesia dan candi Angkor Wat di kamboja menandakan negara-negara di ASEAN itu serumpun. Saya pikir iya, persamaan relief  bisa menjadi salah satu tanda negara-negara di ASEAN ini serumpun. Meski itu bukan satu-satunya alasan. Lalu kapan saya memiliki kesempatan untuk melihat keindahan negara-negara serumpun lainnya ? mari berdoa dan menabung ;) . 


Tulisan ini diikutsertakan dalam : #10daysforASEAN 



26/08/2013

Nyalon di Salon Thailand atau Salon Lokal


Siapa sih yang nolak kalau kulitnya mulus dan licin kaya kulit bayi. Atau rambut dan tubuhnya secantik bintang sinetron dan model ? kayanya sih gak ada yang nolak ya. Begitulah masyarakat kita dewasa ini, tontonan televisi , film , youtube, gaya hidup, dan lain-lain yang membuat sebagian orang berfikir bahwa kecantikan ragawi adalah segalanya. Haloooo.... kecantikan fisik itu bukan segalanya.

Informasi yang semakin bebas dan terbuka, mode dan trend dari mancanegara menyerbu dan menggempur memasuki tanah air tercinta. Sampai-sampai tampilan fisik pun memiliki standar tertentu. Kadangkala ungkapan   "Jangan menilai seseorang dari tampilan fisik " pun terlupakan.
Bicara soal kecantikan pasti gak akan jauh dari salon atau rumah kecantikan. Tempat perawatan bagi tubuh dan wajah, baik untuk pria dan wanita. Nyalon adalah istilah bagi wanita atau pria ( sebagian kayanya ) yang suka menghabiskan waktunya dengan melakukan perawatan di salon. Entah sekedar potong rambut, creambath, pijat, dan segala jenis perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Dari perawatan ala Eropa, perawatan traditional Indonesia sampai yang sedang trend saat ini adalah salon Thailand.  Ngomong-ngomong soal Thailand kok jadi ingat catatan perjalanannya mba Venus di buku The DestinASEAN yang saya baca semalam yang membahas pijat ala Thailand itu ya. Tentang sensasi enaknya dan kraaakkkk...kraakkkk...kraaakkkk...efek dahsyat pijatan di sebuah salon di Thailand yang membuatnya ketagihan.


Gimana kalau salon-salon lokal langganan kita  yang dekat dari rumah  itu tiba-tiba digantikan dengan salon-salon bersertifikat international seperti salon Thailand ?. Dengan tempat yang lebih menarik, pelayanan yang lebih baik, apalagi ditambah harga yang terjangkau. Belum lagi macam-macam perawatan unik ala Thailand, seperti pijat Thai, perawatan wajah alami ala Thai  atau pernah dengar nggak cantik alami ala Thailand yang ini ?. Mengencangkan kulit dan  mengecilkan pori-pori wajah,  meremajakan kulit dan menyamarkan kerutan tanpa operasi atau bahan kimia hanya dengan tehnik tamparan dan cubitan. Hah ? serius... itu yang saya baca dari web kecantikan terpercaya.  Agak mikir sih kalau tehniknya harus di cubit dan ditampar gitu ya. tapi tanpa bahan kimia dan operasi, terbukti hanya dengan teknik tampar dan cubit ??? hemmm... sanggup menahan sakit dicubit dan ditampar demi kulit mulus??

Tapi perawatan unik itu bisa jadi belum berani kali ya ke Indonesia, eh tapi siapa tahu dengan semakin terbukanya pasar ekonomi khususnya di ASEAN, apapun bisa saja hadir disini. 

Dengan berbagai tawaran menarik dan berbeda, bisa jadi salon lokal akan kehilangan pelanggannya. Belum lagi kalau salon lokal hanya menawarkan pelayanan sekedarnya yang kadangkala lupa pakai senyum dan perawatan ' biasa' maka selesailah sudah.  Siapa yang nggak mau kalau kulit dan wajahnya jadi sebening Natasha Nauljam, Kim So Yeon  atau Jeon Ji hyun artis-artis berwajah cantik dari Thailand. Ini salon neng, bukan mau bedah plastik  -__-

Credit

Tapi apabila pengusaha salon-salon lokal ingin tetap menjadi tuan di negrinya sendiri, tentu saja harus berani bersaing, menambah kreatifitas dengan terus  berinovasi mencari perawatan terbaik, inovasi tempat yang juga nyaman dan terus meningkatkan pelayanan terhadap konsumen ( ini penting ). Maka saya yakin kalau salon-salon lokal akan tetap dan terus menjadi salon pilihan terbaik para pelanggan. Bahkan jika salon lokal menguasai konsumen di negri sendiri, memiliki reputasi dan brand yang baik, SDM yang profesional dan loyal terhadap mutu produk bisa jadi bahkan mampu mencapai pasar di luar negri khususnya ASEAN.

Jadi kalau ada salon Thailand yang  menawarkan perawatan terbaik dengan sertifikat International apalagi jika terjangkau dan hadir di perumahan, saya mungkin gak akan tahan untuk tidak mencobanya.
Yang baru dan berbeda kadang bikin penasaran, dan melek dengan produk luar memang gak ada salahnya. Tapi masa sih gak lebih cinta dengan produk sendiri ? masa sih gak ingin produk dalam negri menjadi tuannya di negri sendiri ?  Yuk tetap membuka diri terhadap perubahan dan jangan takut bersaing. Kita harus mampu meningkatkan daya saing. Rubah mind set dan keluar dari zona nyaman untuk bersaing dimata dunia khususnya ASEAN.

Tulisan ini diikutsertakan dalam : #10daysforASEAN


19/08/2013

Libur Tlah Usai


" Libur tlah usai, libur tlah usai hore..hore..hore... "
Mungkin lirik lagunya Tasya kalau boleh aku ubah, akan aku ubah liriknya seperti kalimat diatas. 
Iya, bukan hanya liburan yang disambut dengan suka cita tapi liburan usai dan kembali ke aktifitas dan kesibukan pun harus kita sambut dengan suka cita dan semangat.

Jika liburan memberi kita waktu untuk bersantai dan bersenang-senang, untuk memanjakan diri dengan traveling atau menikmati waktu bersantai dan berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Otomatis energi dan semangat kita setelah liburan sudah berlipat ganda donk ? ibarat batrey yang sudah di charger full.
Jadi gak ada kamusnya setelah liburan justru males kembali beraktifitas, yang biasanya bisa bangun siang sekarang pagi-pagi udah ngedumel ajah karena terbayang macet, dan tumpukan pekerjaan yang akan hadir didepan mata. Tugas-tugas para emak yang juga sudah menanti, dari menyiapkan segala tetek bengek keperluan yang sekolah dan kekantor, sampai antar jemput krucils hingga memasak. 

Membayangkan liburan yang menyenangkan dan hiruk pikuknya aktifitas harian kita, tentu saja akan membuat kita sesaat menghela nafas ya mak. Tapi tak ada pesta yang tidak usai, liburan hanya jeda untuk kita bukan akhir sebuah perjalanan. Iya sih aku juga pagi ini terbangun dengan kaget karena seolah diingatkan jadwal jemputan pagi si kakak dan sarapan hubby dan krucils. 
Tapi jika semua dikembalikan pada ikhlas dan bernilai ibadah , insyaallah semua terasa ringan. 

Jadi, yuk tetap semangat menyambut hari-hari baru pasca liburan sekolah, lebaran dan tahun ajaran baru untuk para buah hati. Selamat menyambut kesibukan dan keruwetan meeting pekerjaan kita atau pasangan, ketegangan saat anak-anak ujian atau keruwetan dipagi hari. Berfikir positif dan tetap berbahagia dengan diri sendiri itu penting. Tidak mungkin kita bisa membahagiakan orang lain, jika kita tidak bahagia dengan diri kita sendiri. Bukankah ibu,emak,bunda adalah anugerah... jadi yuk berbahagia agar mereka juga bahagia.

Seperti pagi ini mak,... setelah berjibaku dipagi tadi dengan keperluan anak-anak dan hubby, saat ini dengan secangkir teh hijau dan musik plus tuts keyboard yang mengabadikan catatan-catatan hatiku. Nikmat mana yang harus kudustakan... selalu ada bonus manis dari Sang pencipta di setiap perjalanan hidup kita.

" Lupakan rasa sedih kemarin dan rasa sakit semalam, hari baru adalah harapan yang baru. Bukankah hidup hanya perjalanan, yang disetiap sisinya akan ada kerikil dan duri. Jika rasa hanya label maka buat label disetiap situasi dengan tetap bersyukur dan bersabar "