15/07/2014

The Fault in Our Star



Novel karya Jhon Green ini sudah lama usai aku baca. Novel yang membuatku mengharu biru ini memang meninggalkan kesan yang begitu dalam. Meskipun bukan hal yang aneh karena seperti buku-buku yang bertema kanker lainnya yang aku baca selalu berhasil membuatku merasakan berbagai macam perasaan.
Review dari buku dan filmnya sudah banyak sekali di internet. Teman-teman bisa dengan mudah browsing dan membaca atau sekalian nonton filmnya yang sedang tayang saat ini di bioskop.

Aku hanya ingin menuliskan perasaanku terkait novel dan filmnya. Ada satu kalimat dari begitu banyak dialog indah pada film ini yang begitu aku ingat. Bahwa rasa sakit menuntut untuk dirasakan.
Ya,...penerimaan yang paling baik adalah berdamai menerima kenyataan kanker ada pada garis nasib hidup kita. Dan menerima rasa sakitnya, karena rasa sakit selalu menuntut untuk dirasakan.

Kalimat ini seolah menjadi matra saat aku merasakan kembali rasa sakit pada tubuhku. Aku menuntut tubuhku untuk menerima dan kuat untuk merasakan sakitnya. Karena penghiburan dan lainnya tidak akan mampu mengatasi rasa sakit selain diri kita sendiri. Pasien penyintas sepertiku yang pernah merasakan berada dalam kondisi pasrah saat tubuh kita harus menerima suntikan morfin untuk menghilangkan rasa sakit, mungkin akan memahami kalimat ini dengan sebenarnya meski dalam pemahaman yang berbeda-beda.

Hazel dan Augustus dua tokoh dalam film ini menghadapi kanker dan kematian dengan berani. Mereka hidup bersama kanker, berada dalam zona yang sama membuat keduanya seolah saling memiliki satu sama lain. Cinta diantara mereka menguatkan dan membuat hidup lebih berwarna disela penderitaan dan rasa sakit. Sekali lagi cinta digambarkan dengan begitu indah, percayalah hanya cinta yang membuat rasa sakit menjadi sedikit terabaikan.

Film ini membuatku cengeng secengengnya, sepanjang film ini air mataku gak berhenti mengalir. Ada bagian dalam diriku yang begitu sesak, mungkin trauma atau mengasihani diri teringat hari-hari berat dimana aku menjadi beban dan pusat kekhawatiran keluarga yang mengasihiku. Bagiku peperangan dulu mungkin hanya tentang rasa sakit, tapi bagi keluargaku barisan rasa cemas, takut dan lelah. Mengingat pengorbanan mereka, mungkin itu salah satu alasan air mataku mengalir. Dokter tidak pernah berkata bebas, sekali kanker menyapa hidupmu dia akan mengawasimu disana menunggumu kembali lengah. Dan sejujurnya aku ingin berkata tidak, tapi jika bersikap masa bodoh membuatku lengah aku lebih memilih waspada.

Film ini tidak hanya membuat mataku sembab saat keluar studio, film ini juga mengingatkan kembali tentang memaknai hidup dengan baik. Tentang mensyukuri segala sesuatunya, karena kita tidak punya 'selamanya' , hidup hanya perjalanan yang sementara, hingga pada akhirnya kita kembali pada yang hakiki. Bedanya bagi pasien kanker seperti pada film ini yang berada pada stadium akhir hanya mereka sudah diberitahu nomer panggilan untuk bersiap menuju keabadian. Yang lainnya masih menjadi misteri kehidupan.

  " Kanker mungkin hanya salah satu cara Tuhan menuntutmu menjadi lebih kuat seperti bentuk kasih sayang Tuhan lainnya " ~ Irma Senja

" You dont get to choose if you get hurt in this world , but you do have some say 
in who hurts you" ~ The Fault in Our Star

47 comments:

  1. Peluk mbk irma...^^
    Wah..jd penasaran sama filmnya q mbk..pgn nonton jadinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo nonton mba, mba akan merasa sangat bersyukur dgn nikmat sehat :)

      Delete
  2. saya juga pasti akan menangis mak jika menonton filmnya atau membaca novelnya, setelah membaca sedikit cerita dari mak Irma ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ceritanya memang mengharu biru meski digambarkan dengan ringan mak :)

      Delete
  3. penerimaan yang paling baik adalah berdamai menerima kenyataan kanker ada pada garis nasib hidup kita. Dan menerima rasa sakitnya, karena rasa sakit selalu menuntut untuk dirasakan.

    suka kutipan yang diatas mba...

    Jadi kepengi baca Novelnya dan liat filmya deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mba,...silahkan nonton filmnya, sdg tayang di bioskop2 di jkrt saat ini :)

      Delete
  4. Mba Irma... film ataupun buku yang berkisah ttg kanker memang selalu menguras emosi ya mba.. mungkin Karena kit a sebagai penyintas, merasakan betul apa yg terjadi dngan si tokoh.
    Btw, di Kaltim belum main film nya mba. Masih menunggu dengan setia disini pengen non ton...

    Pelukkk Dan tosstt.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mba, menurutku itu juga alasannya... karena kita berada pada nasib yang sama, meski dgn kanker yg berbeda tentu saja. :)

      Delete
  5. Hugs and kisses... semangat mbak Irma ^^
    Dr minggu lalu pengen banget nonton ini blm kesampean..suamiku ga mo diajakin nonton film melow gini :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suamiku jg melarangku untuk menonton film ini, dia agak khawatir dgn efek psikologis setelah aku nonton film ini. Iya sih,,,aku mewek sepanjang filmnya, tp penuh rasa syukur krn berhasil melewati saat2 menyakitkan itu....allhamdulillah :)

      Delete
  6. Nama pengarang bukunya salah tulis tuh, Neng, di paragraf awal *teuteup* :))
    Daripada sedih-sedih, yuk, sini, kita ngebakso aja :*

    ReplyDelete
  7. Aku punya dua bukunya, Inggris dan Indonesia, tanpa mengurangi rasa hormat pada penerjemahnya, buku yang versi Indonesia nggak kelar2 bacanya :(
    Belum nonton filmnya, khawatir ilfil karena nggak sesuai dengan buku hehehe norak ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku baca buku versi indonesianya mba :)

      Delete
  8. Penerimaan yang paling baik adalah berdamai menerima kenyataan kanker ada pada garis nasib hidup kita. Dan menerima rasa sakitnya, karena rasa sakit selalu menuntut untuk dirasakan.

    --> ini berlaku untuk setiap penyakit juga ya Mak. Dan semangat hidup memang bisa menyembuhkan atau membuat seseorang bertahan.
    *Hug*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, menurutku ini untuk setiap penyakit juga :)

      Delete
  9. wah, sy termasuk orang yang gampang sekali mengeluarkan air mata saat baca atau nonton yag mengharu biru, apalagi tentang penderita kanker ya, krn ayahku juga mengalami kesakitkan saat menderita kanker, jadi tahu deh kondisi yg dialami penderita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mba, kisah2 seperti ini memang sangat menguras perasaan dan emosi ya

      Delete
  10. semoga lekas sembuh, sesembuh-sembuhnya :)

    ReplyDelete
  11. Orang biasa aja nangis2 baca/nontonnya, apalagi mba Irma yg pernah ngerasain...
    Saya blum kesampaian nih baca buku / nonton filmnya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mba,...film ini menguras emosi *_*

      Delete
  12. Bagiku peperangan dulu mungkin hanya tentang rasa sakit, tapi bagi keluargaku barisan rasa cemas, takut dan lelah. ==> jleb banget .. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jlebb tapi sepertinya begitu bagi mrk yang mengasihi kita teh :)

      Delete
  13. Untuk yang pertama kepingin baca novelnya.
    tapi masih ada gak ya di bookstore bukunya mbak?

    ReplyDelete
  14. Mak... sepertinya komenku yg pertama gak masuk ya?

    Aku jadi pengen nonton filmnya juga nih Mak.
    Utk Mak Irma.. tetap semangat ya Mak...semoga dapat melawan penyakitnya.
    Tetap semangat dan senyum cantik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. SEpertinya begitu mba, iya...terima kasih suportnya selalu mba reni :-*

      Delete
  15. harus bawa tissue banyak nih kayaknya kalau saya nonton film ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. benerrr mak,...aku sampe nyerobot tissu nya makpon :)))

      Delete
  16. Wah jadi pengen baca buku nya juga nih.. film nya keren sih

    Agen Bola

    ReplyDelete
  17. Semua indah jika sudah bersama Alloh

    ReplyDelete
  18. Wah yang terharu2 pasti bakal ngubek2 perasaan saya... Kayaknya ini bakal jadi salah satu buku yang ada di waiting list buat saya baca deh mak... Review-nya bikin saya penasaran... hehe

    Makasih ya mak :)

    Salam hangat selalu,
    Zia

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak, bukunya menyentuh juga kok,,,tapi saya mewek2nya saat nonton filmnya
      terimakasih kembali mak Zia :)

      Delete
  19. aku belum nonton filmnya , gak ada yg jaga anak2 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. siniii titipin ke aunty irma anak2nya mak :)

      Delete
  20. WOW Keren nie artikernya
    Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
    Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    ReplyDelete
  21. yuk teman2 main yuk di www.royalflush99.com..asik lo main poker online

    ReplyDelete
  22. masih belum kuat hati nonton ini, hatiku masih trauma gara2 baca bukunya huhuhuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. huhuhuuuu,....filmnya lebih dramatis mila

      Delete
  23. Mba Irma, novel John Green yang sudah dalam terjemahan bahasa Indonesia ada nggak ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada kok hery, ayoo berburu di gramedia tuh ;)

      Delete
  24. Penasaran sama filmnya nih, belum nonton. hehe.
    eh iya ada lomba bagus nih, diliat aja dsini http://kompetisimenulis.com/

    ReplyDelete

Terima kasih kunjungan dan komentarnya, salam.... :)