23/09/2015

Senja Untukmu


Katamu aku serupa senja,
dan aku selalu suka menjadi senja untukmu,
katamu aku paduan ketegaran langit dan kelembutan awan...

Aku selalu suka menjadi senja,
menjadi alasan untukmu menatap langit,
saat kau mengemudi mobilmu,
atau dari jendela ruang meetingmu,
bahkan di hiruk pikuk jalanan kota yang macet.

Aku selalu suka menjadi senja,
saat kau menepi mencari surau,
menggemakan takbir direlung hati,
ketika langit temaram gemawan jingga.

Aku selalu suka menjadi senja,
bahkan ketika aku tak memberimu apa-apa.
Aku masih suka menjadi senja,
karena bagimu aku tak perlu menjadi siapa-siapa,
cukup menjadi senja.

Ketika awan lebih pekat memudarkan lembayungmu,
aku selalu suka menjadi senja.
Meski kelak kau tak lagi berdiri dikaki langit menatap cakrawala yang sama.
Aku akan tetap menjadi senja,...

Meski singkat senja selalu hadir dimana pun kau berpijak,
dibumi mana pun kau menjejak.
Saat tengadah menatap langit dan matahari surut 16 derajat,
aku disana, dilangit senja...

Aku akan selalu menjadi langit senja untukmu,....percayalah

# Sebuah catatan lama, mengembalikan ingatan lama tentang begitu jauhnya sebuah perjalanan yang sudah terlewati. Adakah yang berarti selain pengalaman dan kenangan yang menyertainya. Usia mungkin lekang, keindahan, kecantikan, ketampanan, perlahan waktu akan membuatnya hilang. Keindahan kenangan akan mengabadi pada jurnal yang tersusun, pada puisi yang tertulis, pada aksara yang terbaca... Semua mengabadi ketika menyimpannya pada arsip bernama kenangan.

Menyisakan rasa yang bergelut dengan waktu, tentang segala kemungkinan, tentang segala yang terasa ... tentang segala harapan, hingga pada akhirnya bertemu keabadian....

4 comments:

  1. paling suka bagian ini "Meski kelak kau tak lagi berdiri dikaki langit menatap cakrawala yang sama.".
    kerennn...

    ReplyDelete
  2. Senja tak pernah melemah..
    Hanya sengaja padam untuk menciptakan redup,yang akan dinikmati oleh pecinta sunyi

    ReplyDelete

Terima kasih kunjungan dan komentarnya, salam.... :)