28/12/2015

Di Jendela Tua


Angin bulan desember berhembus pelan melalui jendela tua yang terbuka, menerbangkan pashmina  panjang yang dia kenakan. Samar bibirnya tersenyum, mengingat sepenggal cerita, tentang sebuah perjalanan tak berujung, tentang cinta...

" Aku hanya mencintaimu, dulu...saat ini dan nanti. Selamanya... " 

" Aku juga,... " bisik wanita itu tanpa suara, hatinya riuh tentang banyak kata namun bibirnya terkunci begitu rapat.

Kalimat itu kembali terngiang di telinganya, seperti angin yang pelan membelai lirih terasa hingga membuat dadanya berdebar begitu keras. Tanpa sadar jemari tangannya dia tempelkan di dada, dia tekan perlahan seolah meredakan rasa sakit yang samar mengusik. Kalimat yang selalu dia dengar berulang sejak bertahun-tahun yang lalu tapi efeknya selalu sama dari waktu ke waktu. Selalu berhasil membuat dadanya merasakan rasa cinta dan sakit yang bersamaan.

" Aku tahu ini egois,... tapi tidak ada yang bisa menggantikan kamu, sekalipun dia. Kamu selalu jadi wanitaku. Selamanya .... " 

Waktu seakan terhenti, jendela tua seolah menjadi saksi kehampaan yang terasa di penghujung desember saat ini. Betapa jarak sudah terlampau jauh untuk di tempuh, dan impian hanya menyisakan perasaan yang mengambang di udara. Lelakinya selalu di sana, tidak pernah mengalihkan pandangan dari tatapannya, tidak pernah berhenti melangitkan asa, selalu teguh dan tidak pernah menyerah. Meski jarak pandang begitu jauh, dia masih di sana dengan harapan yang sama.

Dan wanita itu masih disini, menatap jendela tua yang dia biarkan terbuka... meski dia tahu hanya angin dingin yang menemaninya hingga penghujung desember yang kesekian. Tidak kunjung usai, meski pelan namun pasti gigil tubuhnya semakin kuat. Angin dingin perlahan membekukan sendi-sendi tubuhnya, merapuhkan pengharapan dan doa-doanya. Bibirnya kian beku, mulai tak sanggup meski berbisik dan membaitkan satu nama yang sekian waktu slalu seirama dengan helaan nafasnya.

" Aku yang melepaskan genggaman jemarinya ketika dia datang dan memohon untuk tinggal, aku yang memintanya pergi saat itu dan memintanya untuk bersama wanita yang lain, seharusnya aku menutup jendela tua ini selamanya. Supaya pandangannya tak lagi mengarah padaku... hingga membuatnya hilang arah, dan aku tak lagi berdiri sendiri hingga desember selanjutnya " 

Selendang panjang yang dia kenakan pelan kembali tertiup angin, menyadarkan wanita itu untuk menutup dan belajar melepaskan apa yang sudah pernah dia lepaskan... sebelum gigil tubuhnya semakin kuat, sebelum air mata rebak di ujung kedua matanya yang hitam dan melemahkan pertahanannya, sebelum dia rapuh tak mampu lagi membedakan mana tawa dan tangis. Sebelum dia berbisik dan berkata "kembalilah, aku masih di sini menunggu" 

Note : Ekspresi wajah di imagenya gak pas sih dengan fiksi di bawah ini, harusnya ekspresinya mellow sedih ini malah girang gitu ya, tapi abaikanlah ya fokus ke jendelanya aja :)))
 

 

19 comments:

  1. Nahlho...
    Hiks... Penyesalan selalu menyesakan.

    ReplyDelete
  2. Hiks..
    Penyesalan yang menyesakan ya, mba

    ReplyDelete
  3. ekspresinya selalu keren kok mba...eh salah fokus ya

    ReplyDelete
  4. justru dengan ekpresi gini jadi unik :)

    ReplyDelete
  5. Penyesalan selalu menyisaka rasa perih emang, hiks. Meski tak selalu begitu. Btw mak Irma makin cantik aja mak

    ReplyDelete
  6. sedihhh :(
    tapi tetep semangat pokoknya :)

    ReplyDelete
  7. jadi ikutan sediiih bacanya...letting go memang tidak pernah mudah..

    ReplyDelete
  8. Ada seseorang yang setia di cerita ini :')

    ReplyDelete
  9. Hmmm wanita oh wanita, kadang mau digunakan oleh dirinya sendiri ya.
    BTW iya nih ilustrasinya mukanya kurang melow sis ;p

    ReplyDelete
  10. cocook ko nengnong..

    jendelanya ekspresip eehh :V

    ReplyDelete
  11. sepanjang baca mau komen gitu. kok potonya senyum ya jangan-jangan endingnya bahagia hahahaha

    ReplyDelete
  12. Coba prompt di mff mak, ff kan dikit. Ini dah oke

    ReplyDelete
  13. Duh, melting bacanyaaaaa

    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  14. Duh, kok sedih banget ceritanya. Pengibaratan sebuah jendela dengan kenangan atau sesuatu yang sudah lama begitu menyentuh. bikin terisak banget, lanjut bikin cerita selanjutnya mbak hehee. salam kenaal dari Elsa :3

    ReplyDelete

Terima kasih kunjungan dan komentarnya, salam.... :)