08/02/2017

Puisi Untuk Gusti di Museum Ullen Sentalu

Kembali ke kota Yogyakarta seperti kembali ke romansa tentang perjalanan lalu. Iya... Yogyakarta salah satu kota yang memiliki cerita manis tersendiri di dalam arsip perjalanan hidupku. Kota pelajar, kota keraton, kota yang menyimpan banyak sejarah masa lalu tentang negri ini, kota gudeg, kota bakpia, kota di mana salah satu keajaiban dunia borobudur berada. Kota dengan candi dan pantainya, kota dengan berjuta cerita manis yang mengendap di setiap relung kenangan mereka yang datang dan pergi di kota ini, kota yang ramah dengan inggih-inggihnya warga Jogja yang membuatku merasa pulang.

Awal bulan lalu aku kembali menemukan alasan untuk lagi merasa jatuh cinta pada kota ini. Bukan hanya pada setiap lintasan kenangan yang pernah terjadi kala itu. Bukan hanya tentang sebuah kedai dengan lampu-lampu redup menampilkan bayangan teduh yang menatapku dalam. Bukan tentang jalanan bertabur lampu malam yang mengendap dalam ingatan, karena sekeping asa yang berpendar di sana. Bukan hanya tentang cinta tanpa kadaluwarsa, tanpa spasi dan koma. Aku kembali merasa jatuh cinta pada sebuah tempat di mana labirin masa lalu membawa kita melewati waktu seolah kembali ke masa itu, masa di mana para putri dan raja berada di balik tembok istana. Yang bercerita tentang budaya, sejarah juga cinta.

Museum Ullen Sentalu Yogyakarta

" Mak nenk pasti suka, karena banyak puisi indah di sana ... "

Iyaa, benar ... aku jatuh cinta pada cerita romansa seorang putri yang berjuang demi prinsip yang dipegangnya. Jatuh cinta pada kisah putri yang lain yang juga berjuang untuk cintanya. Waktu tidak kunjung mengikis perasaan cinta berbeda kasta tersebut, justru waktu menguatkan dan pada akhirnya mengukuhkan. Cerita salah satu puteri keraton yang terabadikan melalui puisi-puisi dan foto di salah satu museum yang menurutku museum paling cantik yang pernah aku datangi. Museum Ullen Sentalu Sleman Yogyakarta. Museum dengan arsitektur berbentuk labirin yang sangat indah dan kaya akan sejarah dan cerita. 


Kisah romansa seorang putri Tineke yang ' patah hati ' hingga memakan waktu dan membuat kerabat dan sahabatnya memberikan penghiburan melalui surat-surat dan puisi. Sebagai seseorang yang menyukai puisi, aku terpesona membaca tulisan-tulisan itu, terasa begitu hidup dan mengikat. Sayangnya dimuseum ini tidak boleh mengambil gambar atau foto, puisi-puisi itu tidak bisa saya simpan dan ingat semua atau diabadikan dalam foto/ kamera. Dan menyimpan gambarnya disini, tapi mungkin demikian harusnya hingga cerita yang berada di dalam museum tetap tersimpan hanya bisa dilihat jika kita mengunjungi museum cantik itu.


Ada salah satu puisi indah yang di tulis oleh kerabat putri Tineke yang juga seorang putri raja yang tidak kalah mempesona, yang kecantikan, prinsip dan pesonanya terpatri di museum yang sama...Putri Gusti Nurul. Puisi penghiburan untuk sepupunya yang sedang menggalau hampir 10 tahun lamanya karena cinta yang tak direstui.

Gusti sayang

Kupu tanpa sayap
Tak ada di dunia ini
Mawar tanpa duri
Jarang ada atau boleh dikata tak ada
Persahabatan tanpa cacat
Juga jarang terjadi
Tetapi cinta tanpa kepercayaan
Adalah suatu bualan terbesar di dunia ini

Puisi yang tertulis puluhan tahun lalu itu, mengabadi dan terasa universal karena masih relevan hingga saat ini. Cinta selalu sama ternyata, entah dulu ratusan tahun lalu hingga kini di jaman semua serba instan. Cinta masih menjadi topik yang tak terpecahkan hingga kini. Cinta masih merasuk sebegitu dalam ke dalam kisi-kisi rongga jiwa manusia. Masih mengajarkan tentang banyak rasa, dan menghadirkan banyak cerita. Cinta selalu menjadi alasan laju gerak kehidupan ini.


Menyusuri museum ini seperti berjalan dalam kenangan, kisah para pangeran dan putri yang hidup di masa lalu di balik tembok keraton. Museum ini seolah mengajarkan tentang kehidupan slalu berjalan, semua yang terjadi pada akhirnya akan terlewati. Semua yang hidup akan mati, semua kerumitan akan menemukan jalan keluar. Semua akan menjadi sejarah dan sejatinya menjadi pelajaran berharga.

Jogja,... kelak aku akan kembali, menjemput cerita yang berbeda. Tentang keindahan langit senja di pantainya atau perjalanan mendebarkan bertemu merapi. Entah...semoga :)

Museum Ullen Sentalu
Jalan Boyong KM 25 Kaliurang
Sleman, Yogyakarta

8 comments:

  1. Puisinya indah mak, tempatnyajuga indah

    ReplyDelete
  2. "Tetapi cinta tanpa kepercayaan adalah suatu bualan terbesar di dunia ini"😍 😍 😍 :)

    ReplyDelete
  3. Kalo kupu2 tanpa sayap mah almarhum yaa mak hehehehe

    ReplyDelete
  4. Ahhh, Jogja selalu ngangeniiiin :)

    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  5. teduhnyaaa.... asri
    banyak pohon

    ReplyDelete

Terima kasih kunjungan dan komentarnya, salam.... :)